Kegagalan Pemberian ASI Eksklusif

Posted on

Salah satu Standar Pelayanan Minimal (SPM) yang ada dalam program perbaikan gizi masyarakat adalah pemberian ASI Eksklusif pada bayi usia 0-6 bulan. Berdasarkan RAD Kabupaten Kebumen target  yang harus dicapai pada tahun 2013 sebesar 60%. Di wilayah Puskesmas Bonorowo pada tahun 2013 mulai bulan Januari sampai dengan Juli pencapaian ASI Eksklusif sudah mencapai target bahkan lebih dari target. Untuk bulan Juli pencapaiannya sebesar 66.8%.

Pengertian ASI eksklusif berdasarkan PP No 33 tahun 2012 adalah ASI yang diberikan kepada Bayi sejak dilahirkan selama 6 (enam) bulan, tanpa menambahkan dan/atau mengganti dengan makanan atau minuman lain. Pertanyaan yang muncul adalah benarkah bayi-bayi yang dilaporkan benar-benar mendapatkan ASI Eksklusif dari ibu mereka. Walaupun oleh bidan desa dilaporkan ASI eksklusif tetapi mungkin pada kenyataannya bayi-bayi tersebut tidak mendapatkan ASI eksklusif. Hal tersebut pantas dicurigai karena berdasarkan pengertian di atas pemberian ASI eksklusif dengan sebenar benarnya sangatlah sulit.

Sebelum menjawab pertanyaan tersebut kita harus mengetahui terlebih dahulu faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi kegagalan pemberian ASI eksklusif. Berdasarkan teori yang ada dapat digolongkan menjadi 2 faktor yaitu faktor internal dan faktor eksternal.

  1. Faktor internal
  2. Faktor Pendidikan

Makin tinggi pendidikan seseorang, maka makin mudah untuk menerima informasi sehingga semakin banyak pula pengetahuan yang dimiliki. Sebaliknya pendidikan yang kurang akan menghambat sikap terhadap nilai-nilai yang baru diperkenalkan, termasuk mengenai ASI Ekslusif.

  1. Faktor Pengetahuan

Pengetahuan yang rendah tentang manfaat dan tujuan pemberian ASI Eksklusif bisa menjadi penyebab gagalnya pemberian ASI Eksklusif pada bayi. Kemungkinan pada  saat pemeriksaan kehamilan (Ante Natal Care), mereka tidak memperoleh penyuluhan intensif tentang ASI Eksklusif, kandungan dan manfaat ASI, teknik menyusui, dan kerugian jika tidak memberikan ASI Eksklusif.

 

  1. Faktor Sikap/Perilaku

Menurut Rusli, 2000, dengan menciptakan sikap yang positif mengenai ASI dan menyusui dapat meningkatkan keberhasilan pemberian ASI secara esklusif.

  1. Faktor psikologis

Takut kehilangan daya tarik sebagai seorang wanita (estetika), Tekanan batin.

  1. Faktor Fisik ibu

Alasan Ibu yang sering muncul untuk tidak menyusui adalah karena ibu sakit, baik sebentar maupun lama. Sebenarnya jarang sekali ada penyakit yang mengharuskan Ibu untuk berhenti menyusui. Lebih jauh berbahaya untuk mulai memberi bayi berupa makanan buatan daripada membiarkan bayi menyusu dari ibunya yang sakit.

  1. Faktor Emosional

Faktor emosi mampu mempengaruhi produksi air susu ibu.

  1. Faktor eksternal
  2. Faktor Peranan Ayah
  3. Perubahan sosial budaya
  4. Faktor kurangnya petugas kesehatan
  5. Meningkatnya promosi susu kaleng sebagai pengganti ASI
  6. Pemberian informasi yang salah

Beradasarkan teori tersebut, di wilayah Puskesmas Bonorowo perlu dilihat lebih jauh tentang kebenaran pemberian ASI eksklusif karena faktor-faktor penghambat tersebut jelas ada di wilayah Puskesmas Bonorowo. Perlu adanya studi lapangan dan surveilans ASI eksklusif  supaya data yang dilaporkan lebih akurat. Kerjasama lintas program terutama program Promkes perlu dilakukan. Kader kesehatan juga dapat mengambil peranan penting dalam hal ini.

Berdasarkan data yang ada sebesar 42.8%  penduduk diwilayh puskesmas Bonorowo hanya tamatan SD dan 21.5% adalah tamatan SMP sedangkan sisanya tamatan SMA dan Diploma/Universitas. Mengingat sangat rendahnya tingkat pendidikan di wilayah Puskesmas Bonorowo maka akan mempengaruhi penerimaan seseorang terhadap nasehat-nasehat tentang keunggulan ASI eksklusif, mitos yang melekat pada diri mereka dan ajaran orang tua juga sulit dihilangkan.

Pendidikan yang rendah tentu berpengaruh terhadap tingkat pengetahuan, selain factor pendidikan, pengetahuan juga dipengaruhi dari peran aktif petugas kesehatan terutama hal ini adalah bidan desa, selain itu petugas gizi dan Promkes juga berpengaruh terhadap pengetahuan seseorang tentang ASI eksklusif. Di wilayah Puskesms Bonorowo berbagai upaya telah dilakukan untuk kampanye ASI eksklusif. Sasaran penyuluhan bukan hanya ibu hamil tetapi juga lansia, remaja, kader, ibu-ibu dan bapak-bapak. Disetiap kesempatan sudah disepakati untuk menyinggung pentingnya ASI eksklusif. Materi ASI eksklusif juga sudah disampaikan kepada para ibu hamil yang mengikti kelas ibu hamil setiap bulannya.

Jika peran petugas kesehatan sudah bagus perlu dilihat lebih dalam bagaimana kualitas penyuluhan yang disampaikan kepada sasaran apakah sasaran  mengerti dan memahami apa yang disampaikan penyuluh. Perlu adanya Satuan Acara  Penyuluhan (SAP) tentang ASI eksklusif untuk meningkatkan kualitas materi yang disampaikn.

Keberhasilan penyuluhan oleh tenaga kesehatan bisa dilihat dari sikap seorang ibu untuk memutuskan memberikan ASI eksklusif atau tidak. Penilaian terhadap sikap ini sulit untuk diukur karena berkaitan dengan kejujuran seseorang, Perlu peran serta masayarakat misalnya kader atau tokoh masyarakat untuk mengawasi apakah ibu benar-benar memberikan ASI eksklusif.

Faktor psikologis dan emosional ibu mempengaruhi produksi ASI yang dihasilkan. Tekanan batin, stress, beban hidup yang berat serta factor ekonomi yang sulit mempengaruhi factor psikologis seseorang. Di wilayah Puskemas Bonorowo sebagian besar penduduknya berprofesi sebagai petani, pendapatan yang rendah yang tidak sebanding dengan tuntutan hidup bisa menyebabkan tekanan batin seseorang. Ketergantungan hidup terhadap mertua juga mempengaruhi tingkat stress seseorang.

Pemberian informasi yang salah, justru datangnya dari petugas kesehatan sendiri yang menganjurkan penggantian ASI dengan susu kaleng. Penyediaan susu bubuk di tempat bidan praktek disertai pandangan untuk meningkatkan gizi bayi, seringkali menyebabkan salah arah dan meningkatkan pemberian susu botol.

Berdasarkan PP No 33 Pasal 17 ayat 1 dan 2 menjelaskan bahwa setiap tenaga kesehatan dilarang menerima dan/atau mempromosikan Susu Formula Bayi dan/atau produk bayi lainnya yang dapat menghambat program pemberian ASI Eksklusif. Tenaga kesehatan khusunya bidan penolong persalinan harus tidak terpengaruh terhadap segala promosi dan iming-iming terhadap bonus ataupun keuntungan lain yang ditawarkan produsen susu. Sanksi yang tegas adalah pencabutan ijin praktek jika diketahui melanggar hal tersebut. Di wilayah Puskesmas Bonorowo sudah terdapat kesepakatan untuk menolak adanya promosi susu formula. Bidan desa sudah menyadari akan pentignya pemberian ASI eksklusif.

Selain penolakan terhadap susu formula peran bidan yang tidak kalah penting adalah pelaksanan Inisiasi Menyusui Dini (IMD) yang harus dilaksanakn segera setelah bayi lahir. IMD juga diatur dalam PP No 33 tahun 2012.

Upya–upaya untuk mendukung keberhasilan program ASI eksklusif telah dilakukan di wilayah Puskesmas Bonorowo. Kerjasama lintas program dan kesepakatn-kesepakatan internal telah dibuat untuk keberhasilan pencapaian ASI eksklusif. Hal tersebut ditunjukan dengan sudah tercapainya target yang ditetapkan setiap bulannya selama tahun 2013.

Dilihat dari segi pelaporan setiap bulannya  sudah baik tetapi perlu adanya koreksi diri apakah ASI eksklusif sudah benar-benar dilakukan mengingat beratnya pengertian pemberian ASI eksklusif dan kondisi di lapangan. Pemantauan, pendampingan serta  pelaporan by name perlu dilakukan secara terus menerus demi keberhasilan program dan keakuratan data dilapangan.

 

(Nuning Sugiarti, Puskesmas Bonorowo)

One thought on “Kegagalan Pemberian ASI Eksklusif

    […] Sumber: Dinkes Kebumen […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s