HAK PEROKOK PASIF

Posted on Updated on

NASIB perokok pasif adalah ibarat ‘orang yang tidak makan nangkanya tetapi ikut terkena getahnya’! Bahkan ‘getah’ yang berupa bahaya yang harus ditanggung oleh perokok pasif adalah tiga kali lipat dari bahaya yang ditanggung oleh perokok aktif itu sendiri. Perokok pasif adalah seorang penghirup asap rokok dari orang yang sedang merokok. Laporan yang dirilis oleh WHO menyebutkan, sebagian dari mereka adalah kaum wanita dan anak-anak. Mereka terserang berbagai penyakit, baik pernafasan, paru-paru, sampai terserang kanker. Sebenarnya, si perokok sendiri sudah mengetahui akan hal itu sebab pihak produsen rokok sudah memberikan peringatan yang pasti bukan basa-basi: merokok dapat menyebabkan kanker, serangan jantung, impotensi dan gangguan kehamilan dan janin!

Adalah kelalaian yang layak digugat ketika seseorang tahu tindakannya jelas-jelas dapat merugikan pihak lain, tetapi ia tetap saja ‘nekad’ memuaskan diri sendiri menghisap rokok di tempat umum. Namun bagaimana menggugatnya jika yang bersangkutan merasa merokok di tempat umum adalah haknya juga. Kiranya fenomena ini hanya akan memperjelas kenyataan, bahwa “sangat” tidak mudah mengharapkan keikhlasan seseorang untuk memberikan kenyamanan kepada orang lain sementara ia sendiri harus berkurban tidak menikmati kepuasan dari kesenangannya (menghisap rokok) tersebut. Salah satu cara yang bisa memaksanya untuk mendapatkan efek jera ialah adanya upaya-upaya represif dari berbagai pihak, utamanya dari pihak yang berwenang.

Upaya Represif

Hari Tanpa Tembakau Sedunia (World No Tobacco Day) yang jatuh pada bulan mei kemarin menjadi momentum yang tepat untuk mengingatkan segenap lapisan masyarakat akan urgensinya menghargai hak perokok pasif dalam mendapatkan haknya menghirup udara segar yang bebas dari asap rokok. Tema yang diusung tahun ini adalah, “Tolak iklan, promosi dan sponsor tembakau”. Filosofi tema: “Break the Chain!”; putus rantai generasi perokok dengan melahirkan generasi muda sehat bebas dari asap rokok, yaitu dengan menolak iklan, promosi, dan sponsor rokok untuk menekan bahkan menghapus perilaku merokok yang telah lama menjadi kebiasaan masyarakat Indonesia ini.

Tema ini sangat strategis, terutama jika diingat bahwa penetrasi pasar rokok yang menghunjam dalam dan luas ke tengah-tengah masyarakat adalah akibat dari iklan rokok. Maka penting sekali artinya upaya represif terhadap gencarnya iklan tersebut. Fakta menunjukkan bahwa larangan iklan dan sponsor tembakau adalah salah satu cara paling efektif untuk mengurangi permintaan rokok. Menurut Dr Samlee Plianbangchang, direktur regional WHO SEARO (South-East Asia Region), pelarangan yang komprehensif terhadap segala bentuk iklan, promosi dan sponsorship tembakau bisa mengurangi konsumsi tembakau rata-rata sekitar 7 persen, dengan beberapa negara mengalami penurunan konsumsi hingga 16 persen. (detik.com, diunduh 28 Mei 2013).

Pengaruh iklan rokok terhadap anak-anak dan remaja juga sangat dahsyat. Penelitian Komnas Perlindungan Anak tahun 2007 menunjukkan bahwa 91,7% remaja berusia 13-15 tahun di DKI Jakarta merokok karena didorong oleh pengaruh iklan. Anak-anak dan remaja dapat dengan mudahnya menyaksikan iklan rokok yang bertebaran di mana-mana. Di tempat-tempat umum, jalan-jalan, bahkan dekat sekolah pun iklan rokok leluasa dipampangkan. Belum lagi di televisi, radio, serta media cetak, yang begitu kreatifnya mempengaruhi sasaran tembaknya dengan pesan-pesan yang menghipnotis. Itu belum termasuk sponsorship pada kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh mereka seperti olah raga, pentas seni, dan lain-lain.

Keberhasilan strategi pemasaran yang gencar telah menjadikan Indonesia sebagai negara dengan jumlah perokok ketiga terbesar di dunia setelah Cina dan India, yaitu 34 persen atau 1 dari 3 orang Indonesia merokok. Di samping itu perokok pria di Indonesia juga merupakan yang tertinggi dari 16 negara peserta Global Adult Tobacco Survey 2011, yaitu sekitar 67 persen atau 2 dari 3 pria di Indonesia merupakan perokok aktif. Merekalah yang menjadi kontributor terbesar pada terpaparnya udara dengan zat-zat berbahaya yang terkandung dalam rokok.

Diketahui tembakau mengandung sedikitnya 4000 bahan kimia, 65 di antaranya bersifat karsinogenik (penyebab kanker). Zat adiktif di dalamnya, yaitu nikotin, membuat para perokok sangat sulit berhenti sehingga racun yang terus dihisapnya akan merusak tubuh dan mengakibatkan penyakit fatal, seperti kanker, penyakit jantung, stroke, dan sebagainya, bahkan kematian. Meskipun akhir-akhir ini dengan teknik tertentu ada yang mencoba memanfaatkan tembakau untuk upaya kuratif, namun oleh karena begitu banyaknya unsur-unsur negatif yang dikandungnya menjadikan produk tembakau dijauhi.

Perokok pasif adalah kelompok orang yang pasti akan menjauhinya. Dukungan simpatik terhadap mereka, setidaknya ditunjukkan oleh Pemerintah Kota Makassar yang mengajukan Rancangan Undang-Undang tentang Asap Rokok untuk melindungi para perokok pasif. RUU tersebut bertujuan agar perokok aktif tidak lagi merokok di sembarang tempat, khususnya di kawasan publik. Pertimbangan pengajuan RUU tentang Asap Rokok tersebut semata-mata untuk melindungi para perokok pasif, sehingga ketika berada di tempat umum tidak lagi terganggu dengan asap rokok. (Antaranews.com, 27 Mei 2013).

Kawasan publik, tempat umum, adalah milik bersama. Jika kawasan itu dicemari dengan asap rokok, berarti hak orang yang tidak merokok untuk menikmati segarnya alam tanpa asap rokok dilanggar. Namun sebaliknya jika kawasan itu dibiarkan bersih, hak perokok aktif sama sekali tidak hilang. Ini tidak lain karena kesehatan adalah hak setiap orang. Karena didalam pemenuhan hak tersebut menuntut kewajiban pihak lain untuk memenuhinya, maka menjadi kewajiban masing-masing pihak pula untuk mengupayakannya sesuai kapasitas masing-masing. (*)

(Rohmadi Rusdi, S.IP, Puskesmas Gombong I)

*) Rohmadi Rusdi, S.IP adalah praktisi kesehatan, dan aktivis LSM Paradigma Mind Insani (PMI) Kebumen.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s