Preeklamsia-Eklamsia berjaya sebagai penyebab utama Kematian Ibu

Posted on Updated on

Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki Angka Kematian Ibu  (AKI) dan Angka Kematian Bayi yang masih tinggi dibandingkan negara-negara di Asia Tenggara. Berdasarkan Survey Demografi Kesehatan Indonesia (SKDI) tahun 2007 di Indonesia mencapai 228/100.000 kelahiran hidup. Untuk AKI propinsi Jawa Tengah  yaitu sebesar 114,2/100.000 kelahiran hidup. Angka tersebut merupakan angka tertinggi di negara ASEAN. Penyebab kematian Ibu adalah pre-eklamsia-eklamsia (28.76%), perdarahan (22.42%), infeksi (3.54%)  dsb.

Beberapa tahun yang lalu, penyebab utama kasus kematian ibu adalah disebabkan oleh perdarahan. Namun, dewasa ini Pre-eklamsia- eklamsia telah menggeser perdarahan sebagai penyebab utama kematian Ibu. Oleh karena itu diagnosis dini pre-eklamsia yang merupakan tingkat pendahuluan eklamsia, serta penanganannya  perlu segera dilaksanakan untuk menurunkan Angka Kematian Ibu (AKI) dan bayi (AKB).

Dalam rangka meningkatkan pengetahuan tentang up date terkini mengenai deteksi dini, penanganan dan kewenangan bidan dalam menangani kasus Preeklamsia dan eklamsia, mahasiswi Prodi DIII Kebidanan STIKES Muhammadiyah Gombong menyelenggarakan Seminar Kebidanan dengan judul “The Outhority of Community Midwives in Basic Emergency Treatment of Pre-eclamsia and Eclamsia” pada hari Kamis tanggal 06 Desember 2012 di gedung pertemuan Hotel Candisari- Karanganyar,Kebumen. Adapun pembicara dalam seminar tersebut adalah Prof. dr. Soerdjo Hadidjono, SPOG ( Master Trainer Kementrian Kesehatan), dr. Hm Mambodyanto Sp, SH, M.Kes ( Fakultas Kedokteran Unsoed & district fasilitator program expanding maternal neonatal survival kab. Banyumas), dan Dra Imbarwati, SsiT, M.Kes (Ketua PD IBI Jawa Tengah).

Seminar yang dihadiri oleh mahasiswi Kebidanan dan bidan yang berasal dari wilayah kab. Kebumen maupun luar wilayah kabupaten tersebut menitikberatkan pada deteksi dini dan penatalaksanaan preeklamsia-eklamsia sesuai kewenangan  bidan serta mengetahui aspek legal/ perlindungan hukumnya. Dalam seminar tersebut, Prof. dr. Soerdjo Hadidjono, SPOG mengatakan bahwa “stabilisasi dan merujuk secara tepat waktu dengan kondisi optimal akan sangat membantu pasien untuk ditangani secara adekuat dan efektif”.  Pengertian dari stabilisasi disini bukan hanya sekedar memasangkan infus lalu memberikan cairan yang balance pada pasien namun harus dengan  melakukan tindakan lain yang tepat dengan tujuan agar kondisi pasien tetap stabil untuk sebelum dilakukan rujukan ke Rumah Sakit.

Masih minimnya pemahaman bagi seorang bidan khususnya bidan komunitas mengenai batas batas kewenangan yang dimiliki oleh bidan, menjadi keraguan tersendiri untuk bidan dalam memberikan asuhan terhadap suatu kasus tertentu. Masalah tersebut terkadang membuat seorang bidan langsung melakukan rujukan namun lalai dalam menjaga stabilisasi pasien sehingga beresiko terjadi kematian saat dalam perjalanan ke Rumah Sakit. Keraguan bidan tersebut disebabkan ketakutan akan tuntutan hukum apabila pasien meninggal di rumah bidan sehingga bidan terburu buru untuk merujuk.

“Sebaiknya saat merujuk pasien, oleh bidan /tenaga kesehatan harus mendampingi sampai Rumah Sakit’, Dra Imbarwati, SsiT, M.Kes menambahkan dalam paparannya.

Diposkan oleh : Novita Putri Damayanti (UPTD Unit Puskesmas Kebumen II)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s