RESPON CEPAT PENANGGULANGAN GIZI BURUK

Posted on

Masalah gizi buruk mempunyai dimensi yang sangat luas, baik konsekuensinya terhadap penurunan kualitas sumberdaya manusia maupun penyebabnya. Gizi buruk secara langsung maupun tidak langsung akan menurunkan tingkat kecerdasan anak, terhambatnya pertumbuhan dan perkembangan anak serta menurunkan produktivitas. Gizi buruk secara langsung disebabkan oleh kurangnya asupan makanan dan penyakit infeksi dan secara tidak langsung disebabkan oleh ketersediaan pangan, sanitasi, pelayanan kesehatan, pola asuh, kemampuan daya beli keluarga, pendidikan dan pengetahuan.

Gizi buruk merupakan masalah yang perlu penanganan serius. Berbagai upaya telah dilakukan pemerintah antara lain melalui revitalisasi Posyandu dalam meningkatkan Cakupan penimbangan balita, penyuluhan dan pendampingan, pemberian Makanan Pendamping ASI (MP-ASI) atau Pemberian Makanan Tambahan (PMT), peningkatan akses dan mutu pelayanan gizi melalui tata laksana gizi buruk di Puskesmas Perawatan dan Rumah Sakit, penanggulangan penyakit menular dan pemberdayaan masyarakat melalui Keluarga Sadar Gizi (Kadarzi).

Salah satu upaya untuk mencegah terjadinya KLB gizi buruk di beberapa wilayah, terutama di wilayah rawan pangan dan gizi, pemerintah telah mengeluarkan kebijakan dengan melakukan Respon Cepat Penanggulangan Gizi Buruk. Langkah ini sebagai salah satu upaya untuk lebih mengaktifkan kembali surveilans gizi terutama dalam pelaksanaan Sistem Kewaspadaan Dini Kejadian LuarBiasa (SKD-KLB) Gizi Buruk di seluruh Indonesia.

Langkah-langkah Respon Cepat Gizi Buruk :

1. Penemuan kasus gizi buruk dapat dilakukan dengan penapisan melalui kegiatanpenimbangan seluruh balita secara serentak di Posyandu

2. Melakukan konfirmasi Status gizi Balita  BGM dan 2T yang ditemukan dengan:

– Memeriksa tanda-tanda klinis marasmus, kwasiorkor, dan marasmikwasiorkor.

– Apabila tidak ditemukan tanda-tanda klinis, dilakukan pengukuran TB dengan microtoise dan PB dengan alat ukur panjang badan (length board). Untuk menentukan status gizi digunakan standar WHO-NCHS. Jika hasilnya <-3SD ditetapkan sebagai gizi buruk.

3.Rujukan Balita Gizi Buruk

4. Perawatan balita gizi buruk dengan menerapkan 10 Langkah Tata Laksana Balita Gizi Buruk meliputi : fase stabilisasi, transisi, rehabilitasi dan tindak lanjut.

5. Menindaklanjuti balita gizi buruk pasca perawatan, di rumah tangga

A. Anak 2 T dan atau BGM tanpa perawatan

1. Diberi MP-ASI/PMT sesuai umur selama 90 hari

– Diberikan MP-ASI. bubur diberikan kepada bayi usia 6 – 11 bulan.

– MP-ASI biskuit diberikan kepada anak umur 12 -24 bulan.

– Anak umur 25 -59 bulan diberikan PMT. Pemberian MP-ASI/PMT

2. Konseling gizi

B. Anak gizi buruk pasca perawatan dan yang tidak mau dirawat

1. Makanan formula 100 (F 100)/Formula modifikasi selama 30 hari, kemudian dilanjutkan dengan PMT/MP-ASI selama 90 hari.

2. Konseling gizi

6. Pendampingan Pasca Perawatan

(Dwi Retnaningsih, Amd Gz, Pkm Karanganyar)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s