CAMBUK GIZI BURUK

Posted on

Ketika mendengar kata gizi buruk, terbayang dibenak kita sosok miskin,kecil dan terpinggir. Gizi buruk bukan lah hal asing bagi kita tenaga kesehatan. Persoalan lama yang seakan-akan tidak akan pernah kunjung selesai. Setiap tahun pasti ada dan seakan tidak kunjung padam.

Masalah gizi buruk bukanlah masalah biasa yang harus diselesaikan dengan cara biasa. Perlu penanganan segera. Akan tetapi bukanlah penanganannya yang menjadi fokus utamanya melainkan bagaimana mencegahnya. Selama ini  sudah dilakukan berbagai macam upaya yang melibatkan lintas sektoral untuk mencegah kasus gizi buruk terulang kembali.

Apabila dirunut,masalah gizi buruk berawal dari kondisi ekonomi yang buruk. Kondisi ekonomi keluarga memang sangat menentukan pola pikir,pola asuh, dan pola kesehatan serta kesadaran akan pentingnya gizi yang seimbang.

Secara logika, seharusnya gizi buruk tidak mungkin terjadi ketika pelayanan kesehatan sudah gratis. Misalnya dengan adanya jamkesmas,bantuan makanan tambahan dari pemerintah,sumber daya manusia kesehatan yang memadai,dan keterjangkauan sarana kesehatan di tingkat desa seperti PKD yang tersebar di seluruh indonesia.

Apa yang menjadi kendala selama ini adalah kurangnya kesadaran. Kesadaran bukan hanya dari masyarakat tetapi juga dari sumber daya manusia kesehatan itu sendiri. Sadar akan tugas dan kewajibannya mengentaskan kasus gizi buruk. Semua masalah kesehatan termasuk gizi buruk dapat teratasi dengan promosi kesehatan yang luar biasa dari tenaga kesehatan. Dengan menggunakan berbagai macam media yang semakin modern, sebenarnya promosi kesehatan dapat lebih luas jangkauannya dan mudah diterima.

Pencegahan kasus gizi buruk dapat terlaksana yaitu dengan promosi kesehatan yang  efektif. Selain itu, diperlukan juga sistem deteksi dini sebelum gizi buruk terjadi. Bukan hanya diberikan makanan tambahan sewaktu terjadi gizi buruk ,akan tetapi justru yang lebih penting adalah pemberian makanan bergizi sebelum terjadi gizi buruk. Makanan tambahan diberikan dengan berpedoman pada sistem deteksi gizi sehingga tidak akan terjadi salah sasaran.

Revitalisasi Posyandu perlu dilaksanakan. Posyandu seharusnya dijadikan ujung tombak dalam proses pemberantasan kasus gizi buruk. Dengan posyandu, deteksi dini gizi buruk dapat dilakukan. Perlu adanya proaktif dari tenaga kesehatan untuk membina dan mendampingi kader-kader posyandu di desa.

Pada intinya penanganan gizi buruk dapat berhasil ketika dilakukan secara  komprehensif yang melibatkan lintas sektoral. Sistem deteksi dini, promosi kesehatan,revitalisasi posyandu dan kesadaran tanggung jawab adalah cara yang efektif dalam penanganan kasus gizi buruk agar tidak terulang kembali.

(Danang Setyo Pambudi )

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s