PHAST (Parcipatory Hygiene and Sanitation Transformation) Sebagai Upaya Mengendalikan Kejadian Luar Biasa di Kabupaten Kebumen

Posted on Updated on

Latar Belakang

Kejadian Luar Biasa atau sering disebut juga KLB adalah timbulnya atau meningkatnya kesakitan atau kematian yang bermakna secara epidemiologi dalam kurun waktu dan daerah tertentu. Hasil kinerja Dinas Kesehatan sering dikaitkan dalam penangannya terhadap KLB. Sehingga penanganan KLB tidak saja milik satu seksi saja, yaitu Sie Wabah dan Bencana, melainkan milik seluruh bagian yang ada di Dinas Kesehatan. Paparan ini berusaha menggambarkan KLB yang ada di Dinas Kesehatan Kabupaten Kebumen selama tahun 2008 sampai 2009, kontribusi yang dapat disampaikan oleh masing-masing program yang ada di Dinas Kesehatan Kabupaten Kebumen.

Hasil

Tugas pokok Bidang Pengendalian Masalah Kesehatan (PMK) adalah mengendalikan masalah kesehatan yang terjadi di Kabupaten Kebumen. Dengan dukungan 3 seksi yang ada di Bidang PMK berupaya keras menurunkan morbiditas penyakit, baik menular maupun tidak menular dan mencegah adanya KLB. Melalui Sie Wabah dan Bencana telah terbentuk tim KLB Dinas Kesehatan Kabupaten Kebumen yang sudah mencakup berbagai unsur yang sangat berperan dalam penanganan KLB yang terjadi di Kabupaten Kebumen. Antara tahun 2008 sampai 2009, di Kabupaten Kebumen terjadi KLB yang kecenderungannya meningkat dilihat dari daerah persebarannya. Hal ini dapat dilihat dari tabel berikut ini.

Tabel 1. Kejadian Luar Biasa Tahun 2008 Sampai 2009 Berdasarkan Jenis Penyakit dan Daerah Persebaran

 

2008

2009

Keracunan makanan Kuwarasan,Karangsambung Keracunan             jajanan Alian
Diare Klirong I Keracunan jamur Alian, Karang Anyar (2x), Mirit
Disentri Mirit,Bonorowo Keracunan   pindang Gombong II
Typoid Klirong I,Sempor I, Prembun Thypoid Ambal II
Parotitis Prembun Malaria Rowokele
Campak Sempor I,Sempor II Chikungunya Ayah I, Sempor I (2x), Kebumen II, Sruweng, Pejagoan, Sempor II, Karanggayam I, Rowokele, Petanahan, Kebumen I, Kutowinangun, Ambal II,
DBD Sruweng,Sempor I
Chikungunya Ayah  II, Sruweng, Karangsambung

Sumber : Laporan Tahunan Bidang PMK

Berdasarkan tabel  diatas maka dapat disimpulkan ada peningkatan frekuensi KLB di Kabupaten Kebumen, jika pada tahun 2008 ada 8 jenis KLB di 11 wilayah Puskesmas, tetapi pada tahun 2009 ada 6 jenis KLB yang ada di 16 wilayah Puskesmas.  Tabel 1 juga menunjukkan ada 3 jenis penyakit yang masih menjadi penyakit KLB di Kabupaten Kebumen yaitu Keracunan makanan (jamur), Thypoid dan Chikungunya yang mengalami kenaikan kasus yang sangat signifikan.

Salah satu cara untuk mencegah kejadian penyakit yaitu dengan memutus rantai penularan penyakit tersebut. Begitu juga untuk mengendalikan KLB atau mencegah kenaikan kasus penyakit, kita harus mengidentifikasi penyakit termasuk media penularan sebelum memutuskan cara yang tepat untuk memutus rantai penularan penyakit. Berdasarkan tabel 1 , kita dapat menggolongkan KLB tersebut menjadi 3 golongan menurut media penularannya.

Tabel 2. Penggolongan KLB Berdasarkan Media Penularan

NO

MEDIA

MACAM

1.

Vektor Malaria, DB, Chikungunya

2.

Fecal Oral kontaminasi Diare, Disentri, Thypoid, Parotitis,Campak

3.

Makanan Keracunan makanan (jamur, jajanan, pindang)

Beberapa upaya sudah dilakukan oleh Dinas Kesehatan maupun petugas Puskesmas untuk mencegah KLB di wilayahnya, seperti pelatihan bagi petugas surveilans, melakukan SKD yang dapat dilihat dari laporan SST maupun W2 oleh petugas surveilans, Inspeksi sanitasi maupun pemantauan jentik nyamuk oleh petugas sanitarian puskesmas. Tetapi agaknya upaya tersebut belum membuahkan hasil seperti diketahui masih terjadi KLB di Kabupaten Kebumen, bahkan daerah yang mengalami KLB semakin banyak. Ada beberapa hal yang secara tidak langsung berpengaruh terhadap timbulnya KLB di Kabupaten Kebumen

  1. Kurangnya koordinasi antar program baik di Puskesmas maupun di Dinas Kesehatan. Sehingga masing-masing program lebih mengutamakan tanggungjawabnya masing-masing
  2. Kecenderungan petugas di lapangan akan bertindak aktif pasca kejadian
  3. Tidak adanya kajian data penyakit dan faktor resikonya yang berpengaruh. Data hanya sekedar kewajiban mengumpulkan di Dinas Kesehatan Kabupaten atau Dinas Kesehatan Propinsi
  4. Kecenderungan kegiatan pengendalian penyakit dilakukan oleh petugas puskesmas/kader kesehatan, sehingga masyarakat merasa tidak bertanggungjawab terhadap kejadian penyakit dan baru merasa ketika sudah terjadi KLB dan kegiatan yang dilakukan di masyarakat tidak ada tindaklanjut nyata.

Untuk itu tulisan ini mencoba memberikan saran terhadap hal-hal yang berpengaruh secara tidak langsung terutama point 4 karena point 1 sampai 3 tidak melibatkan pihak luar atau internal Jajaran kesehatan.

Upaya yang coba ditawarkan untuk mencegah KLB di Kabupaten Kebumen, yaitu melibatkan seluruh elemen masyarakat dalam usaha mengurangi morbiditas penyakit. Dengan melibatkan masyakat, ada beberapa keuntungan yang diperoleh, antara lain

  • Masyarakat ikut bertanggungjawab terhadap pengendalian penyakit
  • Beban kerja petugas lebih ringan

Salah satu cara untuk menggali peran serta masyarakat yaitu melalui PHAST (Parcipatory Hygiene and Sanitation Transformation) yaitu upaya yang dilakukan dari, oleh dan untuk masyarakat untuk menurunkan penyakit berbasis lingkungan melalui pengidentifikasian masalah kesehatan (penyakit) dan faktor-faktor yang mempengaruhi kejadian penyakit tersebut di suatu wilayah. Kegiatan PHAST ini dilakukan dengan fasilitasi petugas puskesmas  dan menggunakan parcipatory kit. Tahap-tahapan PHAST terdiri dari :

1.      Pemetaan wilayah

Masyarakat diajak untuk menggambarkan peta wilayah lengkap dengan sarana-prasarana umum, sarana sanitasi atau pelayanan kesehatan, dll. Tujuannya kita dapat mengetahui akses masyarakat terhadap sarana sanitasi dan pelayanan kesehatan

2.      Identifikasi penyakit

Kita menggali dari masyarakat jenis penyakit yang ada dan jumlah warga yang menderita penyakit tersebut (morbiditas)  di daerah tersebut. Masyarakat diajak untuk menceritakan penyebab dan gejala penyakit tersebut

3.      Identifikasi sarana air bersih dan sanitasi

Kita menggali dari masyarakat jenis sarana air bersih dan sanitasi yang digunakan oleh masyarakat serta mengajak masyarakat untuk mengindentifikasi/menggolongkan kualitas sarana air bersih maupun sanitasi (sehat/tidak sehat)

4.      Identifikasi perilaku sehat dan perilaku tidak sehat

Kita menggali dari masyarakat jenis-jenis perilaku yang biasa dilakukan oelh masyarakat seperti mandi, mencuci, buang air besar, memasak, makan, cuci tangan, buang sampah, dsb serta mengindentifikasi/menggolongkan kualitas sarana air bersih maupun sanitasi (sehat/tidak sehat)

5.      Alur penularan penyakit

Setelah masyarakat mampu mengidentifikasi penyakit, sarana air bersih/sanitasi dan perilaku yang mempengaruhinya, masyarakat diajak untuk membuat alur penularan dari

6.      Cara menghambat penyakit (blocking)

Tahap selanjutnya setelah masyarakat dapat menggambarkan alur penularan penyakit termasuk media penularannya kita memfasiltasi masyarakat untuk mencari alternatif  pemecahan yang dapat digunakan untuk mencegah media penularan. Sebagai contoh untuk menghambat penyakit DB, blocking yang dapat digunakan penggunaan repellant/obat nyamuk semprot, fogging atau PSN dengan 3M

7.      Pemilihan pencegahan penyakit menular

Pada tahapan ini masyarakat diajak untuk memilih atau memutuskan cara menghambat penyakit dengan kriteria sangat efektif  mencegah penyakit dan paling mudah dilakukan (dilihat dari segi biaya) oleh masyarakat sendiri. Kita berikan kebebasan kepada masyarakat untuk memutuskan karena mereka sendiri yang akan melakukan cara pencegahan tersebut.

Sebagai catatan sebagai fasilitator selama pelaksanaan PHAST kita tidak boleh mengintervensi masyarakat dalam memilih alternatif pencegahan penyakit seperti yang kita inginkan. Pelaksanaan PHAST  dilakukan secara berkelompok antara 10-15 orang dan memerlukan waktu yang tidak lama, sehingga dapat dilakukan bersamaan dengan pertemuan rutin warga.

Penutup

Demikianlah alternatif upaya pemecahan masalah untuk mencegah KLB di Kabupaten Kebumen. Harapannya dengan melibatkan masyarakat dari awal pengidentifikasian masalah/penyakit hingga pemilihan cara menghambat penyakit, masyarakat dapat ikut bertanggungjawab mengendalikan peningkatan kasus/KLB.

(Desi Frageti, SKM)

One thought on “PHAST (Parcipatory Hygiene and Sanitation Transformation) Sebagai Upaya Mengendalikan Kejadian Luar Biasa di Kabupaten Kebumen

    norra hendarni wijaya said:
    17/12/2012 pukul 14:14

    informasi yang di berikan cukup baik,mohon untuk penyakit malaria penyebaran vektornya lebih di perinci lagi sesuai dengan masing-masing wilayah dan spesies vektor nyamuknya yang ada di daerah kebumen.makasih………..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s