PENCEGAHAN PENULARAN HIV-AIDS DARI IBU KE BAYI

Posted on

Artikel ini dibuat penulis setelah mengikuti seminar berjudul Preventing Mother to Child Transmision of HIV (PMTCT) pada akhir tahun 2009. Ada tiga materi yang disampaikan pada seminar ini yaitu Tinjauan Klinis HIV-AIDS dari RSUD Banyumas, Penatalaksanaan HIV-AIDS oleh Hery Agoestono dan PMTCT oleh Dr. Adi Setyawan Sp.OG.KFER dari RSUD Margono Soekarja Purwokerto. Artikel ini sengaja ditulis untuk mengingatkan petugas kesehatan untuk lebih mewaspadai bahaya penularan HIV-AIDS dan memberikan pengetahuan bagi masyarakat awam tentang salah satu cara penularan HIV AIDS.

Latar belakang seminar ini adalah situasi kejadian HIV-AIDS yang cukup memprihatinkan di Kabupaten Kebumen. Hingga akhir tahun 2009, ada 38 kasus, 17 orang diantaranya meninggal dunia dan memperingati hari Ibu yang jatuh pada 22 Desember. Sehingga untuk mengurangi morbidatas dan mortalitas HIV-AIDS dan meningkatkan kualitas kesehatan ibu perlu penyegaran kembali bagi masyarakat kesehatan akan segala hal tentang HIV-AIDS utamanya pencegahan penularan HIV-AIDS antara ibu dan bayinya.

HIV adalah virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh manusia dan menimbulkan AIDS. AIDS kepanjangan dari Acquired Immuno Deficiency Syndrome merupakan kumpulan gejala penyakit akibat menurunnya sistem kekebalan tubuh oleh virus yang disebut HIV. Target selular infeksi HIV adalah CD4 Limfosit T, monosit dan makrofag, virus akan memindahkan RNAnya ke dalam sel manusia dengan terintegrasi ke dalam materi genetik atau melakukan replikasi. Cara penularan HIV-AIDS dapat dilakukan melalui : kontak seksual, kontak darah (tranfusi, penggunaan jarum suntik, kontak luka), proses persalinan dan pemberian ASI. Progresivitas HIV dipengaruhi oleh umur < 5 tahun atau lebih dari 40 tahun, infeksi lain, kemungkinan faktor genetik, dan Viral Load dan jumlah CD4, makin tinggi Viral Load makin rendah jumlah CD4 dan maskin cepat progresvitas HIV menjadi AIDS dan kematian. Kriteria AIDS menurut WHO dengan ditemukannya pada pengidap yaitu minimal 2 gejala mayor dan 1 gejala minor serta didukung dengan test HIV positif atau adanya penyakit petunjuk utama yaitu Sarkoma Kaposi dan pneumonia Pneumocystis Carinii atau jumlah sel T-4  menurun dibawah 200.

Untuk mengurangi angka kematian AIDS dapat dilakukan dengan perawatan klinis dan asuhan keperawatan, dukungan psikososial dan konseling, dukungan ekonomi dan pekerjaan, dll. Kewaspadaan standar yang harus dilakukan oelh petugas kesehatan ketika melaksanakan tugas sebagai pencegarahan penularan HIV antara lain : cuci tangan pakai sabun, menggunakan alat pelindung perorangan, pengelolaan alat kesehatan bekasi pakai,pengelolaan benda tajam di pelayanan kesehatan, pengelolaan limbah dan sanitasi.

Penularan HIV pada kehamilan dan persalinan tanpa laktasi lebih rendah dibanding dengan laktasi. Pada 100 ibu hamil beresiko, hanya 25 bayi terinfeksi positif HIV jika tanpa laktasi dan diperkirakan ada 41 bayi jika tanpa laktasi. Faktor resiko timbulnya penularan HIV pada perinatal antara lain : Viral load maternal tinggi, CD4 maternal rendah, persalinan per vagina, ketuban pecah dini dan persalinan prematur (berat badan bayi lahir rendah).

Ada 2 cara prinsip pencegahan penularan ibu ke janin yaitu :

a.      Antepartum

Bertujuan untuk menurunkan viral load ibu sampai kadar terendah dengan sesegera mungkin, meningkatkan CD4 ibu setinggi mungkin dan memperbaiki kesehatan ibu serta menurunkan resiko persalinan prematur dan BBLR. Dilakukan pada masa kehamilan 14-34 minggu dengan menggunakan zidovudine. Jika pada masa antepartum, terjadi resisten ARV, dapat digunakan kombinasi ARV yaitu : Zidovudine dan Lamivudine pada masa antepartum dan Zidovudine dan Nevrirapin pada peripartum.

b.      Intrapartum

Dapat dilakukan dengan 2 cara yaitu seksio caesarea. Cara ini dapat dilakukan dengan syarat usia kehamilan 38 minggu, elektif dan berfungsi untuk mencegah ketuban pecah dini. Cara ini dapat menurunkan penularan 1/2nya jika dibandingkan dengan persalinan per vagina. Yang kedua dengan terapi ARV menggunakan zidovudine dilajutkan drip infuse sampai bayi lahir

c.       Neonatus

Terapi dilakukan pada bayi sebagai profilaksis post exposure dengan menggunakan Zidovudine syrup 2mg/kgBB/6 jam selama 6 minggu dan mulai diberikan 80-12 jam post partum. Cara ini dapat dilengkapi dengan penggunaan susu formula untuk mencegah penularan HIV melalui ASI.

Terapi ARV bertujuan untuk menekan kenaikan virus dan memperbaiki dan menjaga fungsi imum. Tetapi dalam penggunaannya harus disertai dengan monitoring terhadap kenaikan virus atau viral load tiap 4 minggu dan 3 bulan serta untuk mnghindari efek samping ARV berupa toksik hati dan laktik asidosis. Proses menyusui atau laktasi pada ibu yang terinfeksi HIV tidak diperkenankan karena penularan vertical akan meningkatkan kemungkinan penularan HIV. Penularan HIV per liter ASI sama resikonya dengan penularan melalui hubungan seksual. Tingkat penularan ini tergantung viral load, status HIV, kondisi payudara dan lama menyusui. Penularan terbesar dalam 6 bulan pertama menyusui.

Demikian pelajaran/ilmu yang dapat penulis ambil dari seminar sehari dengan judul  Preventing Mother to Child Transmision of HIV (PMTCT).

 

(Desi Frageti, SKM)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s