HAPUS STIGMA DAN DISKRIMINASI, PAHAMI HIV & AIDS

Posted on Updated on

HIV (Human Immuno Virus) & AIDS (Acquired Immune Deficiency Syndrome)  di Indonesia merupakan salah satu infeksi menular yang menjadi perhatian pemerintah. Data di Kabupaten Kebumen menunjukkan peningkatan kasus HIV yang cukup signifikan.  Sampai dengan akhir tahun 2010, sebanyak 72 penderita HIV dan AIDS telah diketemukan, dan tersebar hampir diseluruh wilayah di Kabupaten Kebumen.  Hal ini sangat memprihatinkan karena semenjak pertama kali ditemukan pada tahun 2003 terjadi peningkatan tajam mulai tahun 2008 sampai dengan sekarang.

AIDS dianggap sebagai penyakit yang berbahaya,karena sampai  saat ini belum ditemukan obat yang dapat menyembuhkan.  Pemahaman kebanyakan  orang masih keliru keliru tentang HIV & AIDS. Masalah HIV & AIDS dianggap hanya masalah bagi mereka yang mempunyai perilaku seks yang menyimpang. HIV & AIDS seringkali dikaitkan dengan masalah mereka yang dinilai tidak bermoral, pendosa dan sebagainya. Situasi seperti ini justru hanya memperburuk dan memperparah keadaan karena persoalan HIV yang tidak sesederhana itu.

AIDS (Acquired Immune Deficiency Syndrome) merupakan kumpulan gejala-gejala penyakit yang disebabkan oleh infeksi berbagai macam mikroorganisme serta keganasan lain akibat menurunnya daya tahan atau kekebalan tubuh penderita. Penyakit ini disebabkan oleh virus HIV (Human Immuno Virus) yang menyerang dan merusak sel-sel limfosit T yang mempunyai peranan penting dalam dalam sistem kekebalan seluler. AIDS dapat ditularkan melalui hubungan seksual (homo maupun heteroseksual), darah (termasuk penggunaan jarum suntik) dan transplasental (dari ibu ke anak yang akan lahir).

Selain itu, muncul mitos yang salah yang di masyarakat bahwa berhubungan sosial dengan penderita HIV & AIDS akan membuat kita tertular, seperti bersalaman, menggunakan WC yang sama, tinggal serumah, atau menggunakan sprei yang sama dengan penderita HIV & AIDS.

Anggapan bahwa HIV tinggal menunggu waktu “mati” sangatlah disayangkan. HIV bukanlah vonis mati bagi pengidapnya, HIV adalah virus yang dapat menyebabkan hilangnya kekebalan tubuh manusia. Sebenarnya HIV bukanlah suatu hal yang harus ditakuti hingga menjadi momok yang seakan-akan mengancam kehidupan manusia, selama pengidap tersebut menjaga kondisi tubuhnya maka ia akan hidup dengan sehat dan wajar, dan selama pengidap juga menjaga dan dapat merubah perilakunya maka penularan tak akan terjadi. HIV selama ini begitu gencar dibicarakan, bukan hanya tertuju pada HIV & AIDS-nya saja tapi yang lebih penting bagaimana kita sebagai masyarakat yang cerdas untuk dapat memerangi stigma dan diskriminasi terhadap ODHA (Orang Dengan HIV/ AIDS)

Stigma dari lingkungan sosial dapat menghambat proses pencegahan dan pengobatan. Penderita akan cemas terhadap diskriminasi dan sehingga tidak mau melakukan tes. ODHA dapat juga menerima perlakuan yang tidak semestinya, sehingga menolak untuk membuka status mereka terhadap pasangan atau mengubah perilaku mereka untuk menghindari reaksi negatif. Mereka jadi tidak mencari pengobatan dan dukungan, juga tidak berpartisipasi untuk mengurangi penyebaran. Reaksi ini dapat menghambat usaha untuk mengintervensi HIV & AIDS.

Pada kasus-kasus HIV & AIDS akibat hubungan seksual, selain waria, tuduhan penyebar penyakit HIV & AIDS lebih mudah jatuh kepada pelacur wanita dari pada pelacur pria.

Faktor-faktor yang mempengaruhi stigma terhadap HIV & AIDS :

  • HIV & AIDS adalah penyakit yang mengancam jiwa
  • Orang-orang takut terinfeksi HIV
  • Penyakit dihubungkan dengan perilaku yang telah terstigma dalam masyarakat.
  • ODHA sering dianggap sebagai yang bertanggung jawab bila ada yang terinfeksi.
  • Nilai-nilai moral atau agama membuat orang yakin bahwa HIV & AIDS sebagai hasil dari pelanggaran moral (seperti kekacauan atau penyimpangan seksual) yang layak untuk dikucilkan.

Stigma yang ada dalam masyarakat dapat menimbulkan diskriminasi. Diskriminasi terjadi ketika pandangan-pandangan negatif mendorong orang atau lembaga untuk memperlakukan seseorang secara tidak adil yang didasarkan pada prasangka mereka akan status HIV seseorang. Contoh-contoh diskriminasi meliputi para staf rumah sakit atau penjara yang menolak memberikan pelayanan kesehatan kepada ODHA; atasan yang memberhentikan pegawainya berdasarkan status atau prasangka akan status HIV mereka; atau keluarga/masyarakat yang menolak mereka yang hidup, atau dipercayai hidup, dengan HIV & AIDS. Tindakan diskriminasi semacam itu adalah sebuah bentuk pelanggaran hak asasi manusia.

Bentuk lain dari stigma berkembang melalui internalisasi oleh ODHA dengan persepsi negatif tentang diri mereka sendiri. Stigma dan diskriminasi yang dihubungkan dengan penyakit menimbulkan efek psikologi yang berat tentang bagaimana ODHA melihat diri mereka sendiri. Hal ini bisa mendorong, dalam beberapa kasus, terjadinya depresi, kurangnya penghargaan diri, dan keputusasaan. Stigma dan diskriminasi juga menghambat upaya pencegahan dengan membuat orang takut untuk mengetahui apakah mereka terinfeksi atau tidak, atau bisa pula menyebabkan mereka yang telah terinfeksi meneruskan praktek seksual yang tidak aman karena takut orang-orang akan curiga terhadap status HIV mereka. Akhirnya, ODHA dilihat sebagai “masalah”, bukan sebagai bagian dari solusi untuk mengatasi epidemi ini.

Stigma dan diskriminasi dapat muncul dari respon masyarakat pada HIV. Gangguan pada individu yang terinfeksi atau yang termasuk dalam kelompok tertentu telah meluas. Hal tersebut sering didorong oleh kebutuhan untuk menyalahkan dan menghukum, dan dalam keadaan yang ekstrim dapat meluas menjadi aksi kekerasan dan pembunuhan. Penyerangan pada laki-laki yang dianggap gay telah meningkat di beberapa bagian di dunia, dan HIV & AIDS berhubungan dengan pembunuhan seperti yang dilaporkan di Brazilia, Colombia, Ethiopia, India, Afrika Selatan dan Thailand. Pada Desember 1998, Gugu Dhlamini dilempari batu dan dipukul sampai mati oleh tetangga di sekitar rumahnya dekat Durban, Afrika Selatan, setelah membuka status HIV nya pada Hari Aids Sedunia.

Beberapa bentuk diskriminasi dan Stigmatisasi terhadap ODHA dapat diuraikan sebagai berikut :

  1. Dukungan Bagi ODHA dan keluarga

ODHA mengalami proses berduka dalam kehidupannya -sebuah proses yang seharusnya mendorong pada penerimaan terhadap kondisi mereka. Namun, masyarakat dan lembaga terkadang memberikan opini negatif serta memperlakukan ODHA dan keluarganya sebagai warga masyarakat kelas dua. Hal ini menyebabkan melemahnya kualitas hidup ODHA.

2.  Tempat Layanan Kesehatan

Sering terjadi, lembaga yang diharapkan memberikan perawatan dan dukungan, pada kenyataannya merupakan tempat pertama orang mengalami stigma dan diskriminasi. Misalnya, memberikan mutu perawatan medis yang kurang baik, menolak memberikan pengobatan -seringkali sebagai akibat rasa takut tertular yang salah kaprah. Contoh dari stigma dan diskriminasi yang dihadapi ini adalah: alasan dan penjelasan kenapa seseorang tidak diterima di rumah sakit (tanpa didaftar berarti secara langsung telah ditolak), isolasi, pemberian label nama atau metode lain yang mengidentifikasikan seseorang sebagai HIV positif, pelanggaran kerahasiaan, perlakuan yang negatif dari staf, penggunaan kata-kata dan bahasa tubuh yang negatif oleh pekerja kesehatan, juga akses yang terbatas untuk fasilitas-fasilitas rumah sakit.

3.  Akses untuk Perawatan

ODHA seringkali tidak menerima akses yang sama seperti masyarakat umum dan kebanyakan dari mereka juga tidak mempunyai akses untuk pengobatan ARV mengingat tingginya harga obat-obatan dan kurangnya infrastruktur medis di banyak negara berkembang untuk memberikan perawatan medis yang berkualitas.

Bahkan ketika pengobatan ARV tersedia, beberapa kelompok mungkin tidak bisa mengaksesnya, misalnya karena persyaratan tentang kemampuan mereka untuk mengkonsumsi sebuah zat obat, yang mungkin terjadi pada kelompok pengguna narkoba suntikan.

Apa yang Perlu Kita Lakukan?

Stigma sering kali menyebabkan terjadinya diskriminasi dan pada gilirannya akan mendorong munculnya pelanggaran HAM bagi ODHA dan keluarganya. Stigma dan diskriminasi memperparah epidemi HIV & AIDS. Mereka menghambat usaha pencegahan dan perawatan dengan memelihara kebisuan dan penyangkalan tentang HIV & AIDS seperti juga mendorong keterpinggiran ODHA dan mereka yang rentan terhadap infeksi HIV. Mengingat HIV & AIDS sering diasosiasikan dengan seks, penggunaan narkoba dan kematian, banyak orang yang tidak peduli, tidak menerima, dan takut terhadap penyakit ini di hampir seluruh lapisan masyarakat.

Stigma dan diskriminasi dapat diatasi dengan cara intervensi berbasis masyarakat, termasuk keluarga, tempat kerja, layanan kesehatan, agama, dan media. Intervensi diarahkan untuk membatasi sikap negatif sebagai efek samping dari tujuan lain melalui pendekatan yang inovatif.

Untuk mengatasi stigma dan diskriminasi, cara yang dapat dilakukan adalah melalui proses hukum. Di beberapa negara, ODHA kurang memiliki pengetahuan tentang hak-hak yang seharusnya mereka miliki. Mereka perlu dididik, sehingga mampu mengatasi diskriminasi, stigma dan penyangkalan yang ditemui dalam masyarakat. Pemantauan dapat memperkuat hak-hak ODHA dan memberikan alat yang kuat mengurangi pengaruh buruk stigma dan diskriminasi. Namun stigma dan diskriminasi tidak bisa diatasi hanya dengan hukum, tetapi diperlukan juga partisipasi masyarakat untuk menganggap ODHA sebagai orang yang normal dalam masyarakat.

Sebagai respon, beberapa negara menetapkan Undang-Undang untuk melindungi hak dan kebebasan ODHA dan untuk melindungi mereka dari diskriminasi. Sesungguhnya hak ODHA sama seperti manusia lain, tetapi karena ketakutan dan kekurangpahaman masyarakat, hak ODHA sering dilanggar. Menurut hasil penelitian dokumentasi pelanggaran HAM Yayasan Spiritia, 30% responden menyatakan pernah mengalami berbagai diskriminasi dalam pelayanan kesehatan dan dalam keluarga.

Hak asasi manusia itu di antaranya adalah memiliki dan mendapatkan privasi, kemerdekaan, keamanan serta kebebasan berpindah, bebas dari kekejaman, penghinaan (tindakan menurunkan martabat atau pengucilan), bekerja (termasuk terbukanya kesempatan yang sama), mendapatkan pendidikan serta menjalin mitra jaringan, keamanan sosial dan pelayanan, kesetaraan perlindungan dalam hukum, menikah dan berkeluarga, mendapatkan perawatan, dan masih banyak lagi. Selain hak, ODHA juga mempunyai kewajiban seperti menjaga kesehatan, tidak menularkan ke orang lain,mencari informasi dan lain-lain.

Perbedaan antara ODHA dan orang yang tidak terinfeksi yaitu  ODHA memiliki virus yang melemahkan sistem kekebalan tubuhnya. Selain itu secara sepintas kita tidak dapat membedakan antara seseorang yang memiliki status HIV positif dengan orang yang tidak terinfeksi. Status HIV positif seseorang hanya bisa dibuktikan dengan tes darah dan itu pun dilakukan dengan VCT (Voluntary Counseling and Testing), yaitu tes secara sukarela. Selain itu kita hanya bisa tahu jika ODHA membuka status HIV positif-nya kepada kita dan kita mempunyai kewajiban untuk menjaga konfidensialitas (kerahasiaan) ODHA tersebut.

Satu upaya dalam menanggulangi adanya diskriminasi terhadap ODHA adalah meningkatkan pemahaman tentang HIV & AIDS di masyarakat, khususnya di kalangan petugas kesehatan, dan terutama pelatihan tentang perawatan. Ini pada pokok menekankan pentingnya kewaspadaan universal, agar tidak ada kebingungan. Tambahannya, lebih banyak konselor harus dilatih agar pelaksanaan tes dan konseling HIV dapat berjalan sesuai prosedur. Pemahaman tentang HIV & AIDS pada gilirannya akan disusul dengan perubahan sikap dan cara pandang masyarakat terhadap HIV & AIDS dan ODHA, sehingga akhirnya dapat mengurangi tindakan diskriminasi terhadap ODHA.

Carilah informasi tentang HIV dan AIDS dari sumber yang tepat sebanyak-banyaknya adalah sebagai salah satu cara untuk melindungi diri kita dan orang lain. Paling penting adalah dengan makin banyak informasi yang diserap masyarakat (dari berbagai lapisan), maka perlahan-lahan stigma dan diskriminasi dapat dilenyapkan, sehingga mempercepat dan mempermudah usaha pencegahan karena orang tidak takut lagi untuk mengetahui status HIV-nya, apakah mereka terinfeksi atau tidak.

Semakin banyak masyarakat yang sadar dan peduli akan HIV dan AIDS maka AIDS akan bisa dihentikan melalui penghapusan stigma dan menghentikan diskriminasi dengan memulainya dari diri kita sendiri.

(Laila Erni Yusnita)

2 thoughts on “HAPUS STIGMA DAN DISKRIMINASI, PAHAMI HIV & AIDS

    Lin Les Gul said:
    18/06/2012 pukul 12:39

    Semoga artikel ne menambah wawasan masyarakat tentang pencegahan HIV aids…

    […] Kebumen. 2012. Hapus Stigma dan Diskriminasi, Pahami HIV dan AIDS. https://dinkeskebumen.wordpress.com/2012/01/10/hapus-stigma-dan-diskriminasi-pahami-hiv-aids/. Diakses pada tanggal 30 Agustus […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s