MEMERANGI OBESITAS

Posted on

Apa alasan anda ingin turun berat badan ?

  • Ingin tampil ideal di acara khusus
  • Ingin lebih percaya diri
  • Karena pasangan Anda !!!
  • Tuntutan profesi-harus berat badan ideal
  • Disuruh dokter !!!
  • Mengganggu kesehatan !

Seberapa serius kah ? …..

Kini banyak orang mulai berlomba-lomba mengurangi bobot tubuhnya, meskipun banyak yang melakukannya dengan cara keliru, bahkan ingin langsing dengan cara instant. Sayang bukannya langsing yang didapat, tapi ujung-ujungnya malah masuk rumah sakit.

Mengusir gemuk bisa dibilang gampang-gampang susah. Seringkali berat badan naik kembali setelah berhasil diturunkan. Hal inilah yang disebut sebagai “Efek Yo-Yo”, yaitu berat badan naik-turun seperti gerakan mainan yo-yo.

Apakah anda termasuk obese?

Jika tidak tergolong obese, pertahankan pola hidup sehat agar tidak terjadi obesitasJika tergolong obese, jangan anggap remeh, lakukan tindakan segera agar tidak muncul berbagai penyakit yang terkait obesitas

Bagaimana mencegah Obesitas ?

  1. Pola makan seimbang
  2. Pola hidup seimbang   (olahraga / aktivitas fisik)
  3. Pola pikir positif   (menghindari / mengelola stress
  4. Memantau kesehatan berkala  (PENTING, tetapi sering dilupakan)

Yang perlu dilakukan jika anda OBESE

  1. Menurunkan berat badan :

 ·         Intervensi Pola Makan

 ·         Intervensi Pola Aktivitas

 ·         Pola Hidup Sehat (tidak merokok, tidak stress)

       2.  Deteksi Sindrom Metabolik : melalui pemeriksaan fisik & laboratorium

3. Tambahan terapi sesuai dengan kondisi Sindrom Metabolik

Penurunan berat badan yang baik akan menurunkan faktor risiko terjadinya penyakit. Penuruan 5% dari BB semula sudah mempunyai dampak, apalagi 10 %, yang dengan mudah dicapai melalui perubahan pola hidup.

Jadi, harus bagaimana?

1.      Mulailah dengan tekad.

Pengetahuan bahwa kegemukan merupakan pemicu timbulnya masalah kesehatan yang berat, dapat memberi motivasi. Selain motifasi kesehatan, penampilan juga perlu mendapat perhatian. Keluarga dan teman-teman disekeliling juga perlu diberitahu tujuan penurunan BB, sehingga dapat mendukung program ini.

2.         Dari pengetahuan yang diperoleh di atas, pengaturan makan dibarengi gaya hidup aktif

dan berolah raga teratur (indikasi: IMT > 30 atau ada penyakit) merupakan jalan terbaik.

Kesinambungan merupakan kemutlakan. Jangan berhenti bila tujuan sudah dicapai.

Pertahankan seumur hidup.
3.    Buat target jangka pendek dan semangati diri sendiri bila bisa mencapai target. Target

jangka pendek adalah penurunan BB 0,5 kg/minggu atau jangka panjang adalah penurunan

10% BB dan mengecilkan lingkar perut.

4. Buat rencana yang masuk akal dan dapat dilakukan untuk jangka waktu lama, seperti makan teratur namun rendah kalori. Mempelajari variasi makanan yang rendah kalori namun cukup enak, mudah dibuat dan diperoleh. Melakukan olah raga di rumah bila harus mengurus anak bayi atau berolahraga ditempat kerja yang masih mungkin dilakukan atau di mobil atau ketempat kebugaran sesusai kerja. Modifikasi jenis olahraga sangat dianjurkan.

Pengaturan makanan

1. Kalori

Kebutuhan kalori orang dewasa berkisar 1500-2000 kkal perhari. Untuk menurunkan berat badan (membuang cadangan lemak) diperlukan defisit pemasukan kalori sekitar 500 kkal/hari, sehingga anjuran asupan berkisar 1000 kkal pada wanita dan 1500 kkal pada pria.

Memperbaiki cara memasak, akan mengurangi penggunaan kalori, seperti menumis, merebus, memepes, memanggang akan menggunakan lemak yang lebih sedikit dibandingkan dengan menggoreng dan masakan bersantan.

Makanan siap saji/cepat saji (nugget, pizza, spaghetti, burger, kentang goreng, sosis) merupakan makanan yang mengandung kalori tinggi dari kandungan lemaknya. Sedangkan kue kering, tart, es krim, alkohol dan minuman soda mengandung kalori tinggi dari kandungan gulanya.

2. Lemak:

Selain lemak mempunyai kalori yang tinggi, lemak makanan juga mempengaruhi kadar kolesterol darah. Kolesterol darah diperoleh dari makanan yang mengandung kolesterol seperti lemak hewan dan jerohan serta kuning telur. Namun tubuh juga dapat membuat sendiri kolesterol di hati dari bahan lain yaitu gula darah dan lemak jenuh. Lebih dari setengah kolesterol yang beredar dalam darah dibuat oleh tubuh sendiri, sehingga pembatasan asupan lemak yang sangat ketat tidak akan bermanfaat karena tubuh justru akan membuat lebih banyak kolesterol.

Kesimpulannya untuk menurunkan kolesterol darah, perlu membatasi kalori dari jenis bahan makanan apapun, termasuk gula, kolesterol dan lemak jenuh. Lemak jenuh diperoleh dari hewan dan tumbuhan yaitu gajih hewan, kulit dan jerohan, sedangkan minyak kelapa, kelapa sawit dan santan juga memberi kontribusi besar.

3. Serat

Serat memegang peran penting pada proses penurunan BB. Terdapat 2 jenis serat:

Serat larut yang tak kasat mata seperti yang terdapat pada oat, kulit ari dari serealia (beras merah, roti gandum) , kacang-kacangan dan buah. Sedangkan serat tak larut dapat dilihat oleh mata dan sebelum dapat ditelan harus dikunyah dengan baik. contoh serat tak larut adalah sayuran. Serat mempunyai volume yang sangat besar dan menyerap air sehingga mengakibatkan rasa kenyang sedangkan kalorinya tidak besar. Dari penelitian diperoleh bahwa seseorang yang makan serat dari buah-buahan dapat menurunkan BB lebih banyak dibanding serat sereal.

Kesimpulan:

  1. Kebutuhan kalori untuk menurunkan BB pada wanita sekitar 1000 kkal, dan 1500 pada pria disesuaikan dengan asupan sebelumnya.
  2. Proporsi lemak adalah 25-30% dari total kalori (+/_ 35g/hari)..
  3. Perbanyak serat dari buah dan serealia, serta sayur untuk mempercepat rasa kenyang, menurunkan kadar lemak dan menstabilkan gula darah.
  4. Keanekaragaman makanan diperlukan untuk memperoleh keseimbangan zat gizi.
  5. Bagi rata makanan agar dapat dikonsumsi 5 kali dalam sehari dengan menitik beratkan pada volume makanan.  Jadwal makan 5 kali adalah sarapan, snek, makan siang, snek, makan malam yang harus berakhir sebelum pukul 19 malam.
  6. Jangan menghindari sarapan agar keseimbangan gula darah terjaga dan tidak ada kecenderungan mengudap.
  7. Olah raga teratur, jangka panjang dengan intensitas sedang memperbaiki profil lipid dan bentuk tubuh.
  8. Pola hidup sehat, penting untuk mencegah/mengatasi obesitas dan risiko penyakit yang ditimbulkannya.
  9. Lingkar perut adalah barometer kesehatan anda. Bila bagian pinggang dari pakaian anda terasa sempit, waspadai adanya Sindrom Metabolik.
  10. Sindrom Metabolik, bagaikan Alert System. Walau tidak menimbulkan rasa sakit, harus dicari permasalahan yang tersembunyi dan selanjutnya dilakukan intervensi agar tidak berkembang menjadi penyakit yang lebih berbahaya.

 

Memang tubuh langsing dan sehat selalu jadi idaman semua orang namun bukan berarti kita sembarangan ‘menyiksa’ tubuh kita bukan?

Jadi, hati-hati jika ingin langsing, lebih baik mulai dengan membiasakan diri hidup sehat  dan berolah raga teratur.

Tubuh langsing, badanpun sehat.

INGAT GAYA HIDUP SEHAT !!!

(DEWI SULISTYAWATI, S. ST)

Sumber            :

    1. Kebiasaan Makan & Gizi Seimbang, Irianton Aritonang
    2. Menilai Status Gizi untuk Mencapai Sehat Optimal, Irianton Aritonang
    3. Prinsip Dasar Ilmu Gizi, Sunita Almatsier
    4. Food Combining, Andang Gunawan

OBESITAS

Posted on Updated on

 

A.  DEFINISI

Obesitas adalah kelebihan berat badan sebagai akibat dari penimbunan lemak tubuh yang berlebihan. Setiap orang memerlukan sejumlah lemak tubuh untuk menyimpan energi, sebagai penyekat panas, penyerap guncangan dan fungsi lainnya. Rata-rata wanita memiliki lemak tubuh yang lebih banyak dibandingkan pria. Perbandingan yang normal antara lemak tubuh dengan berat badan adalah sekitar 25-30% pada wanita dan 18-23% pada pria. Wanita dengan lemak tubuh lebih dari 30% dan pria dengan lemak tubuh lebih dari 25% dianggap mengalami obesitas. Seseorang yang memiliki berat badan 20% lebih tinggi dari nilai tengah kisaran berat badannya yang normal dianggap mengalami obesitas.

 B.  JENIS-JENIS KEGEMUKAN

Berdasarkan tipe-tipe tertentu dibedakan menjadi :

1. KEGEMUKAN MENURUT DISTRIBUSI LEMAK

Berdasarkan distribusi lemak dalam tubuh, kegemukan dibedakan menjadi dua tipe, yaitu tipe android dan ginoid.

a. Tipe android (apel)

Picture1Kegemukan tipe android ditandai dengan penumpukan lemak yang berlebihan di bagian tubuh sebelah atas, yaitu di sekitar dada, pundak, leher, dan muka hingga menyerupai buah apel. Kegemukan tipe ini lebih banyak terjadi pada pria dan wanita yang sudah mengalami menopouse. Lemak jenuh yang mengandung sel-sel besar banyak menumpuk pada tipe android. Melihat hal tersebut di atas, dapat disimpulkan bahwa seorang pria kurus dengan perut gendut lebih berisiko dibandingkan dengan pria yang lebih gemuk dengan perut lebih kecil.

b. Tipe ginoid (pir)

Picture2Gemuk tipe ginoid ditandai dengan penimbunan lemak di bagian tubuh sebelah bawah, yaitu sekitar perut, pinggul, paha, dan pantat. Kegemukan tipe ini banyak terjadi pada wanita. Lemak penyebab kegemukan ini terdiri atas lemak tidak jenuh serta sel lemak kecil dan lembek. Lemak dinyatakan tidak jenuh bila rantai karbon penyusun lemak tersebut mempunyai ikatan rangkap.

Dari segi kesehatan tipe ini lebih aman bila dibandingkan dengan tipe android karena risiko kemungkinan terkena penyakit degeneratif lebih kecil. Akan tetapi, lebih sukar menurunkan kelebihan berat tubuh pada tipe ini karena lemak-lemak tersebut lebih sukar mengalami proses metabolisme.

Perhatian tidak hanya ditujukan kepada jumlah lemak yang ditimbun, tetapi juga kepada lokasi penimbunan lemak tubuh. Pola penyebaran lemak tubuh pada pria dan wanita cenderung berbeda.Wanita cenderung menimbun lemaknya di pinggul dan bokong, sehingga memberikan gambaran seperti buah pir. Sedangkan pada pria biasanya lemak menimbun di sekitar perut, sehingga memberikan gambaran seperti buah apel. Tetapi hal tersebut bukan merupakan sesuatu yang mutlak; kadang pada beberapa pria tampak seperti buah pir dan beberapa wanita tampak seperti buah apel, terutama setelah masa menopause.
Seseorang yang lemaknya banyak tertimbun di perut mungkin akan lebih mudah mengalami berbagai masalah kesehatan yang berhubungan dengan obesitas. Mereka memiliki resiko yang lebih tinggi. Gambaran buah pir lebih baik dibandingkan dengan gambaran buah apel. Untuk membedakan kedua gambaran tersebut, telah ditemukan suatu cara untuk menentukan apakah seseorang berbentuk seperti buah apel atau seperti buah pir, yaitu dengan menghitung rasio pinggang dengan pinggul.

Pinggang diukur pada titik yang tersempit, sedangkan pinggul diukur pada titik yang terlebar; lalu ukuran pinggang dibagi dengan ukuran pinggul.

C. PENYEBAB
Secara ilmiah, obesitas terjadi akibat mengkonsumsi kalori lebih banyak dari yang diperlukan oleh tubuh.
Penyebab terjadinya ketidakseimbangan antara asupan dan pembakaran kalori ini masih belum jelas.
Terjadinya obesitas melibatkan beberapa faktor:

1. Faktor genetik.

Obesitas cenderung diturunkan, sehingga diduga memiliki penyebab genetik. Tetapi anggota keluarga tidak hanya berbagi gen, tetapi juga makanan dan kebiasaan gaya hidup, yang bisa mendorong terjadinya obesitas. Seringkali sulit untuk memisahkan faktor gaya hidup dengan faktor genetik. Penelitian terbaru menunjukkan bahwa rata-rata faktor genetik memberikan pengaruh sebesar 33% terhadap berat badan seseorang.

2. Faktor lingkungan.

Gen merupakan faktor yang penting dalam berbagai kasus obesitas, tetapi lingkungan seseorang juga memegang peranan yang cukup berarti. Lingkungan ini termasuk perilaku/pola gaya hidup (misalnya apa yang dimakan dan berapa kali seseorang makan serta bagaimana aktivitasnya). Seseorang tentu saja tidak dapat mengubah pola genetiknya, tetapi dia dapat mengubah pola makan dan aktivitasnya.

3. Faktor psikis.

Apa yang ada di dalam pikiran seseorang bisa mempengaruhi kebiasaan makannya. Banyak orang yang memberikan reaksi terhadap emosinya dengan makan. Salah satu bentuk gangguan emosi adalah persepsi diri yang negatif. Gangguan ini merupakan masalah yang serius pada banyak wanita muda yang menderita obesitas, dan bisa menimbulkan kesadaran yang berlebihan tentang kegemukannya serta rasa tidak nyaman dalam pergaulan sosial.

4. Ada dua pola makan abnormal yang bisa menjadi penyebab obesitas yaitu makan dalam jumlah sangat banyak (binge) dan makan di malam hari (sindroma makan pada malam hari).

5. Kedua pola makan ini biasanya dipicu oleh stres dan kekecewaan. Binge mirip dengan bulimia nervosa, dimana seseorang makan dalam jumlah sangat banyak, bedanya padabinge hal ini tidak diikuti dengan memuntahkan kembali apa yang telah dimakan. Sebagai akibatnya kalori yang dikonsumsi sangat banyak. Pada sindroma makan pada malam hari, adalah berkurangnya nafsu makan di pagi hari dan diikuti dengan makan yang berlebihan, agitasi dan insomnia pada malam hari.

6. Faktor kesehatan.

Beberapa penyakit bisa menyebabkan obesitas, diantaranya:

- Hipotiroidisme

- Sindroma Cushing

- Sindroma Prader-Willi

- Beberapa kelainan saraf yang bisa menyebabkan seseorang banyak makan.

7. Obat-obatan.

Obat-obat tertentu (misalnya steroid dan beberapa anti-depresi) bisa menyebabkan penambahan berat badan.

8. Faktor perkembangan.

Penambahan ukuran atau jumlah sel-sel lemak (atau keduanya) menyebabkan bertambahnya jumlah lemak yang disimpan dalam tubuh.

Penderita obesitas, terutama yang menjadi gemuk pada masa kanak-kanak, bisa memiliki sel lemak sampak 5 kali lebih banyak dibandingkan dengan orang yang berat badannya normal.

Jumlah sel-sel lemak tidak dapat dikurangi, karena itu penurunan berat badan hanya dapat dilakukan dengan cara mengurangi jumlah lemak di dalam setiap sel.

9. Aktivitas fisik.

Kurangnya aktivitas fisik kemungkinan merupakan salah satu penyebab utama dari meningkatnya angka kejadian obesitas di tengah masyarakat yang makmur.Orang-orang yang tidak aktif memerlukan lebih sedikit kalori. Seseorang yang cenderung mengkonsumsi makanan kaya lemak dan tidak melakukan aktivitas fisik yang seimbang, akan mengalami obesitas. Obesitas merupakan suatu keadaan menahun (kronis). Obesitas seringkali dianggap suatu keadaan sementara yang bisa diatasi selama beberapa bulan dengan menjalani diet yang ketat. Pengendalian berat badan merupakan suatu usaha jangka panjang. Agar aman dan efektif, setiap program penurunan berat badan harus ditujukan untuk pendekatan jangka panjang. Kita lanjut lagi dalam artikel berikutnya.

  (DEWI SULISTYAWATI, S. ST)

Sumber :

  1. Pedoman Praktis Memantau Status Gizi Orang Dewasa, Dep. Kes. RI
  2. Terapi Gizi Medis, Dep. Kes. RI
  3. Ilmu Gizi, dr. Achmad Djaeni Sediaoetama, M. Sc
  4. Prinsip Dasar Ilmu Gizi, Sunita Almatsier
  5. Kebiasaan Makan & Gizi Seimbang, Irianton Aritonang
  6. Menilai Status Gizi untuk Mencapai Sehat Optimal, Irianton Aritonang

Review Perencanaan dan Evaluasi Program Imunisasi bagi Petugas Puskesmas dan RS/BP/RB

Posted on Updated on

pengarahanBertempat di aula Dinas Kesehatan, Review Perencanaan dan Evaluasi Program Imunisasi bagi Petugas Puskesmas, RS/BP/RB se-Kabupaten Kebumen Tahun 2014 dihadiri oleh 51 peserta yang terdiri dari koordinator imunisasi puskesmas dan pelaksana imunisasi di RS/BP/RB. Beberapa materi yang disampaikan pada pertemuan ini antara lain Perencanaan dab Evaluasi Program Imunisasi, Kebijakan dan Pelaksanaan Pemberian Imunisasi DPT-HB-Hib dan Imunisasi Lanjutan pada Batita serta penentuan dan perhitungan sasaran dan  logistik Program Imunisasi. Selain itu juga ada penyampaian materi penentuan sasaran dan rencana kebutuhan logistik vaksin dari Puskesmas Bonorowo, Sempor 2 dan Puring.

 Beberapa hal yang bisa dirangkum dari pertemuan ini antara lain perlunya Kabupaten menampilkan hasil cakupan TT 5 dosis, diskusiuntuk kondisi tertentu pelaksana imunisasi dapat mengabaikan IP agar tidak kehilangan sasaran, imunisasi lanjutan tetap diberikan pada anak yang sudah mendapatkan suntikan MMR (< 2 tahun) dan Hib (< 1,5 tahun) dengan pemberian mengikuti interval minimal dari terakhir mendapatkan imunisasi Campak atau Hib, berkaitan dengan masih banyaknya kendala dalam pemusnahan limbah ADS akan dikomunikasikan di tingkat Dinas dan kewajiban puskesmas untuk mencapai UCi yang berkualitas dengan didukung cold chain dan pelaporan yang berkualitas pula.

(Desi Frageti, SKM)

HATI-HATI LINGKAR PINGGANG

Sampingan Posted on Updated on

Obesitas kini menjadi epidemi, bahkan sejak umur balita. Dan itu menjadi masalah, karena berat badan berlebih berarti menyimpan bom waktu untuk meledaknya sejumlah penyakit di kemudian hari. Selain tidak enak dipandang, obesitas juga menyimpan banyak sisi negatif. Tubuh jadi cepat lelah, pernapasan terganggu, bahkan henti napas waktu tidur. Dan yang lebih seram lagi, kelewat gemuk bikin tubuh rawan dihinggapi penyakit seperti diabetes, tekanan darah tinggi, kolesterol tinggi, penyakit jantung, serta radang sendi. Obesitas tidak hanya dihubungkan dengan penyakit fisik, namun juga dengan masalah kejiwaan, terutama kecemasan. Masalah psikososial juga dialami oleh anak-anak yang obese.

Penyebab Obesitas

Secara sederhana, obesitas berarti keadaan penumpukan lemak yang berlebihan di jaringan adiposa. Keadaan ini timbul akibat pengaturan makan yang tidak baik, gaya hidup kurang gerak, dan faktor keturunan (genetik).

Kelebihan energi makanan yang kita konsumsi secara kumulatif akan ditimbun sebagai cadangan energi berupa lemak tubuh. Ketidak-seimbangan antara energi yang masuk dan yang digunakan tubuh membuat berat badan bertambah.

Peranan genetik dalam kejadian obesitas terbukti dari adanya risiko obesitas sekitar 2 -3 kali lebih tinggi pada individu dengan riwayat keluarga obesitas

Bagaimana mengukur obesitas?

Untuk mengukur obesitas digunakan ukuran  indeks massa tubuh (IMT). IMT dihitung dari: Berat badan (Kg) dibagi Tinggi badan kuadrat (M2)

Berat-badan (Kg)

Tinggi-badan2 (M2)

Kisaran normal IMT Asia-Pasifik 18,5-25,0 kg/m².Lebih dari itu masuk kelompok berisiko, dan bila IMT di atas 25 kg/m² disebut sebagai obesitas.

 Contoh: Bila tinggi badan 159 cm dan berat badan 70 kg.  Maka IMT =

                                70 kg             =          70 kg        =    27,66 Kg/m2

                        (1,59 X 1,59) m2           2,53 m2

IMT 27,66 berarti dalam keadaan obesitas dan dianjurkan menurunkan berat badan dalam kisaran 49 – 60 Kg agar mencapai IMT 18,5 – 22,9.

Sayang IMT tidak mencerminkan distribusi timbunan lemak di dalam tubuh. Untuk menilai timbunan lemak perut dapat digunakan rasio lingkar pinggang dan pinggul (RLPP) atau mengukur lingkar pinggang (LP) saja karena lebih praktis.

Cara ini mudah, dengan menggunakan pita meteran(seperti yang digunakan oleh penjahit) diukur bagian-bagian tubuh untuk mengetahui banyaknya lemak tubuh.

Lingkar Pinggang wanita normal berkisar kurang dari 80 cm (<80) cm dan untuk lingkar pinggang pria berkisar kurang dari 90 cm (<90) cm. Lebih dari itu masuk dalam kelompok berisiko obesitas.

Gemuk pada pria umumnya seperti apel (android), lemak banyak disimpan di pinggang dan rongga perut. Sedangkan wanita menyerupai pir (gynecoid), penumpukan lemak terjadi di bagian bawah, seperti pinggul, pantat dan paha.

Gemuk bentuk ‘apel’ lebih berbahaya dibandingkan gemuk bentuk ‘pir’. Yang berbahaya adalah timbunan lemak di dalam rongga perut, yang disebut sebagai obesitas sentral.

Mengingat obesitas sentral sering dihubungkan dengan komplikasi metabolik dan pembuluh darah (kardiovaskuler), tampaknya pengukuran LP lebih memberi arti dibandingkan IMT. Adanya timbunan lemak di perut tercermin dari meningkatnya LP.

“Jangan hanya menghitung tinggi badan, berat badan dan IMT saja, lebih baik jika disertai dengan mengukur lingkar pinggang”

Bagaimana dengan Anda ???????

 

(DEWI SULISTYAWATI, S. ST)

Sumber :

1.      Pedoman Praktis Memantau Status Gizi Orang Dewasa, Dep. Kes. RI

2.      Terapi Gizi Medis, Dep. Kes. RI

3.      Ilmu Gizi, dr. Achmad Djaeni Sediaoetama, M. Sc

4.      Prinsip Dasar Ilmu Gizi, Sunita Almatsier

5.      Lingkar Pinggang, dr. Gatut Semiardji SpPD-KEMD

Sosialisasi Perencanaan dan Evaluasi Program Surveilans bagi Petugas Puskesmas dan RS

Sampingan Posted on Updated on

1Sosialisasi dilaksanakan di Aula Dinas Kesehatan. Tidak hanya dari Dinas Kesehatan Kab. Kebumen. Narasumber kabupaten menyampaikan materi tentang evaluasi Program Surveilans Tahun 2013, analisa situasi DBD di Kabupaten Kebumen Tahun 2013, sedangkan narasumber dari Dinkes Provinsi Jawa Tengah menyampaikan materi surveilans PD3I, Kebijakan dan Penanggulangan DBD dan tupoksi surveilans.

Beberapa hal penting yang dapat dirangkum dari pertemuan ini antara lain: petugas surveilans harus mengetahui potensi penyakit yang ada di wilayah kerjanya, harus mempunyai form PE yang standar dan memahami PE yang berkualitas, PE tidak hanya membawa form PE, berkaitan dengan bencana, ada atau tidak ada korban jiwa hal sederhana yang harus dilakukan seorang petugas surveilans adalah melakukan Rapid Health Assessment (RHA) dan jika diperlukan mendirikan posko kesehatan.

Laporan kebencanaan dapat dilaporkan secara resmi dari bidan desa-petugas surveilans puskesmas-kepala puskesmas dan terakhir ke Dinas Kesehatan Kab. Kebumen c.q Seksi Wabah dan Bencana. 2Berkaitan dengan hasil evaluasi Program Penanganan DB di Kabupaten Kebumen beberapa hal yang perlu dicermati antara lain: petugas RS harus mengetahui betul kriteria penegakan diagnosis kasus DB yang dilengkapi dengan hasil laboratorium angka trombosit dan hematrokit, selain itu petugas surveilans puskesmas harus memahami betul kriteria diadakannya fogging dan yang perlu diperhatikan fogging harus dilengkapi dengan hasil PE yang sesuai SOP dan 3M penanggulangan DB terdiri dari menguras dan menyikat, menutup dan mendaur ulang barang bekas.

Terkait dengan surveilans PD3I, Indonesia menekankan pada reduksi Campak karena virus Campak hanya ada di manusia dan vaksin Campak tersedia. Oleh karena itu petugas surveilans harus mengetahui herd immunity masyarakat di wilayah kerjanya karena cakupan imunisasi Campaktinggi bukan menjadi jaminan herd imunity masyakat tinggi

(Desi Frageti, SKM)

SEKILAS TENTANG IMUNISASI DPT-HB-Hib

Posted on Updated on

Picture7WHO (Global Immunization Data) tahun 2010 menyebutkan 1.5 juta anak meninggal karena penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi dan hampir 17% kematian pada anak    < 5 tahun dapat dicegah dengan imunisasi. Berdasarkan hasil Riskesdas Tahun 2007, pneumoni merupakan penyebab kematian no. 2 di Indonesia, 1/3 etiologi pneumoni disebabkan karena Hib. Meningitis merupakan radang selaput otak dan Hib merupakan penyebab utama meningitis pada bayi usia ≤ 1 tahun, jika penyakit ini tidak diobati 90% kasus akan mengalami kematian dan jika disertai pengobatan adekuat 9-20 % kasus akan mengalami kematian.

Dan berdasarkan rekomendasi dari SAGE (Strategic Advisory Group Of Expert On Immunnization) dan berdasarkan kajian dari Regional Review Meeting on Immunization WHO/SEARO di New Delhi dan Indonesian Technical Advisory Group of Immunization (ITAGI) pada tahun 2010 maka pemberian  imunisasi Hib dikombinasikan dengan DPT-HB menjadi DPT-HB-Hib (pentavalen) untuk mengurangi jumlah suntikan pada bayi dan perlunya  diintegrasikan ke dalam program imunsiasi nasional untuk menurunkan angka kesakitan, kecacatan dan kematian bayi dan balita akibat pneumonia dan meningitis sehingga dapat tercapai target MDG’s ke-4 ”angka kematian balita (AKABA) 24/1000 kelahiran hidup pada tahun 2015”.

Picture8Tindaklanjut nyata rekomendasi tersebut adalah terbitnya Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 23/Menkes/SK/I/2013 tentang Pemberian Imunisasi Difteri Pertusis Tetanus/ Hepatitis B/Haemophilus Influenza type B. Kepmenkes tersebut menyebutkan pelaksanaan pemberian imunisasi DPT-HB-Hib di Indonesia akan dilakukan secara bertahap, tahap 1 meliputi wilayah Jawa Barat, DI Yogyakarta, Bali, dan Nusa Tenggara Barat pada Juli 2013, Tahap kedua pada Maret 2014 di 10 provinsi, yaitu DKI Jakarta, Banten, Jateng, Jatim, Sumut, Sumsel, Babel, Jambi, Lampung, dan Sulsel, dan  tahap 3 akan diimplementasikan ke seluruh provinsi di tanah air.

Prinsip pemberian imunisasi DPT-HB-Hib, yaitu diberikan pada anak dengan usia 18 bulan per Maret 2014 atau  anak dengan  usia 2 bulan yang belum pernah  sekalipun mendapatkan suntikan vaksin DPT-HB. Bagi anak yang sudah mendapatkan imuniasi DPT-HB dosis pertama atau kedua, tetap dilanjutkan dengan pemberian imunisasi DPT-HB sampai dengan dosis ketiga Pemberian vaksin DPT-HB-Hib sebagai booster diberikan minimal 12 bulan dari DPT-HB-Hib terakhir. Selain itu, pada Maret 2014, anak dengan  usia 2 tahun juga mendapatkan suntikan  imunisasi Campak sebagai booster (imunisasi lanjutan). Interval minimum  untuk mendapatkan booster Campak yaitu  6 bulan dari suntikan Campak dosis pertama.

Picture9Hasil uji klinis yang dilakukan oleh Bio Farma menyebutkan secara materi, kombinasi DPT-HB-Hib tidak akan mengurangi tingkat keamanan dan perlindungan vaksin,  reaksi lokal berupa nyeri hanya dialami oleh 14,9 % subyek dan 28% subyek mengalami demam. Efikasi vaksin 90-99%, selain itu pada pembuatan vaksin DPT-HB-Hib, Bio Farma menggunakan agar pepton untuk perkembangbiakan bakteri.

Imunisasi DPT-HB-Hib diberikan dengan pemberian suntikan vaksin DPT-Hb-Hib 0,5 ml secara intramuskular pada paha anterolateral dan di lengan kanan atas pada batita saat imunisasi lanjutan. Sedangkan untuk pemberian imunisasi Campak diberikan sebanyak 0,5 ml disuntikan secara sub kutan pada lengan kiri atas, pertengahan M.Deltoideus.                               (Desi Frageti, SKM).

 

Sumber : Materi Pertemuan Introduksi Vaksin Baru Tingkat Regional Jawa Tengah pada   27-28 Agustus 2013.

Hasil Pelaksanaan BIAS Campak di Kabupaten Kebumen Tahun 2013

Posted on Updated on

campakBIAS Campak di Kabupaten Kebumen sudah dilaksanakan pada 19 s/d 31 Agustus 2013, tetapi pelaksanaan di puskesmas disesuaikan dengan kondisi masing-masing di lapangan. Sasaran BIAS Campak adalah semua murid baru di SD/MI atau sederajat, sehingga murid kelas 1 yang tinggal kelas tidak dimasukkan sebagai sasaran. Jumlah sasaran BIAS Campak pada tahun ini mencapai 21.272 siswa yang tersebar di 911 SD/MI dan SLB se-Kabupaten Kebumen. Hasil cakupan BIAS Campak mencapai 99,73 % dengan 91 siswa diantaranya tidak diimunisasi disebabkan 24 sakit, 3 pergi dan 64 menolak untuk diimunisasi.

Dibandingkan dengan tahun 2012, hasil cakupan BIAS Campak meningkat sekitar 0,22%, tetapi puskesmas dengan jumlah siswa menolak untuk diimunisasi lebih banyak. Tercatat ada 3 puskesmas yang di wilayah kerjanya terdapat penolakan BIAS, diantaranya di SDIT Logaritma Karang Anyar,  MI Logaritma Kedungjati Sempor 2 dan SD Islam Imam Syafii Karangduwur Petanahan. Adanya penolakan ini menyebabkan ketiga puskesmas tersebut mempunyai hasil cakupan BIAS Campak ketiga terendah se-Kabupaten Kebumen. Alasan penolakan masih disebabkan karena hukum halal haram vaksin dan lebih percaya kepada pengobatan herbal. Padahal sebenarnya seperti halnya obat, Bio Farma sebagai produsen tidak mempunyai kewajiban melampirkan halal haram pada setiap kemasan vaksin, bahkan hasil produski vaksin Bio Farma sudah digunakan atau dieskspor ke 117 negara di dunia, diantaranya Lebanon, Al Jazair, Irak, Malaysia, dsb. Hal seperti ini harus segera disikapi, baik di tingkap puskesmas maupun di tingkat Dinas Kesehatan Kab. Kebumen, perlu adanya peningkatan koordinasi lintas program bahkan lintas sektor dengan pihak terkait seperti Seksi Promkes, Dikpora Kecamatan, MUI Kabupaten, Komda KIPI Kabupaten bahkan jika diperlukan dukungan dari Dinas Kesehatan Provinsi Jateng. (Desi Frageti, SKM)